Kisah Nyata Misteri di Gunung Haruman Garut

Posted by

Garut, 21 September 2020 Assalamu’alaikum Wr.Wb...Bang Jo.... Aku Yuli, 46 tahun..ingin sedikit berbagi cerita nih meramaikan khazanah pengalaman pendakian horor. Waktu itu sekitar bulan Juni tahun 2015. Aku sama anakku Annisa berniat naek ke Gunung Haruman Garut. Aku ingat sekali hari itu hari Jumat. Pada awalnya aku emang ragu buat naek, karena malam sebelumnya aku bermimpi didatangi seorang kakek, dan beliau melarang kita untuk naik hari Jumat. Tapi yaah....dasar nygeyel..kita berdua tetap naek. Kita siap-siap dari jam 7 pagi...karena lokasi Gunung Haruman tidak terlalu jauh rumahku. Cukup 2x naik angkot saja, kita ahirnya berangkat jam 8an. Tidak terlalu banyak bawaan kita, hanya 2 botol minuman dan cemilan aja. Karena sebelumnya kita searching Gn.Haruman tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 1217 mdpl. Niat kita saat itu ingin bisa sampai ke Batu Kuda. Tektok aja karena emang dekat. Mulailah kita naek angkot, ahirnya kita diturunkan oleh sang sopir dengan senyum ramahnya. “ Mangga teh dari sini juga bisa ke Haruman mah.” Tanpa pikir panjang kita langsung turun dan mulai melewati jalanan kampung. Waktu itu masih sekitar jam 9an. (maaf Bang Jo..kalo fotonya kurang jelas, maklum dulu masih pake Hp jadul..he) Jalanan setapak ini tidak jauh kita lewati, setelah itu kita mulai masuk perkampungan. Beberapa orang yang kita temui sama sekali tidak mencurigakan. Dengan yakin mereka mengiyakan bahwa jalan yang kita lalui sudah benar menuju Haruman. Sampai ahirnya kita harus nerobos-nerobos kebun orang, sudah timbul rasa was-was dalam hati, masa iya jalur pendakian seperti ini. untung aja sebagai ibu aku selalu siap bawa golok kecil, teman setia saat kita naek-naek gunung. Dan tak lupa Annisa anakku suka membawa Al-Qur’an kecil di tas nya. oh ya..diperjalanan kita ke Haruman aku juga mengingatkan anakku buat bawa tali rapia, buat nandain jalan pulang, biar gampang dikenali. Sekitar sudah 1jaman kita berjalan nanjakin kebun-kebun, kita beristirahat dan minum. Sebelumnya kita bertemu sama seorang bapa petani dan beberapa anak kecil, mereka seperti senang sekali melihat kita berdua. Tanpa kita sadari senyum mereka ternyata sebuah pertanda. ( pada saat itu kita hanya berpikir mereka sangat ramah...padahal barulah saat pulang kita sadar senyum mereka ternyata ada maksudnya). ( seperti inilah kira-kira jalanan yang kita lalui) Terus kita berjalan sambil sesekali bercanda tentang anak-anak kita di sekolah, kebetulan aku seorang guru honorer dan anakku jadi pembina pramuka. Tiba di persimpangan jalan besar, kita sedikit bingung waktu itu dan mungkin inilah titik awal kejadian-kejadian yang bikin merinding. Sekedar info nih bang, saat nulis cerita ini rasa merinding itu hadir lagi bahkan saat kita bercerita tentang Haruman, kita berdua pasti merinding. Dan pastinya selalu bersyukur sama Allah, finally kita bisa keluar dari Haruman dan pulang dengan selamat. Tanpa ada rasa was-was sedikitpun kita langsung ambuil posisi nanjak lagi dari sebelumnya. Pikir kita ini ada jalan setapak menuju ke atas, dan seperti diarahkan saja kita tanpa ragu-ragu melagkah.disinilah semua bermula. Beberapa tanjakan yang kita lalui masih kebun-kebun warga. Sangat kering sedih melihatnya. Tak lupa di beberapa titik tadi anakku sempat mengikatkan tali rapia berwarna merah buat tanda kita pulang nanti. Saat kita masih nyari-nyari jalan tiba-tiba aku melihat seorang nenek-nenk yang sedang jongkok membelakangi kita. Kita berpikir mungkin saja si nenek bisa nunjukin jalan menuju Batu Kuda. Saat itu aku mendekati si nenek dan mulai bertanya dengan bahasa sunda. “Permisi nek, nek sedang apa, kita mau tanya nih nek?”tanyaku memulai percakapan.saat itu si nenek belum menoleh masih membelakngi kita berdua. Dan betapa kagetnya kita pas si nenek mulai menoleh balik badan kearah kita. Mata si nenek terlihat aneh karena sebelah matanya berwarna putih semua, sementara itu badannya bungkuk dan rambutnya yang putih kumal menyeramkan. Ketika berbalik arah menatap kita, si nenek tidak menjawab pertanyaanku,dia malah tertawa mengerikan, lalu tanpa bertanya lagi kita berlalu dari tempat itu. baru beberapa langkah saja kita melewati si nenek, pas kita berdua mencoba menoleh kebelakang..ternyata sosok nenek itu sudah menghilang. Kaget sekali kita saat itu. lalu kita diam sebentar dan mulai melanjutkan perjalanan. Terus berjalan naik, dan ahirnya kita berjumpa disebuah tanah yang agak lapang. Bingung memilih jalur, kita lalu memutuskan untuk masuk jalanan rimbun ke kebun bambu. Tapi ternyata itu jalur yang sangat-sangat salah! Saat masukpun kita sudah disuguhi suara-suara aneh yang pada ahirnya suara neng kunti melengking membuat kita saling tatap dan pegangan tangan. Tapi kita acuhkan saja suara si neng. Daun-daun bergoyang tanpa angin pun mulai menyambut kita, suara si neng kunti terus mengkuti sampai ahirnya kita memasuki daerah yang sangat aneh. Suara neng kunti menghilang dengan sendirinya. Kita melihat ada sebuah gubuk, didepan gubuk itu ada sebuah sumur,ada gayung butut yang terbuat dari batok kelapa disitu..dan bunga-bunga, seperti bekas mandi kembang kali ya. Kita melihat sekeliling merinding takaruan. Tapi kita harus melanjutkan perjalanan. Dengan berpikir positif aja, kita beristirhat sejenak kebetulan ada sebuah batu aku diam disitu bahkan kita sempat foto-foto di batu itu. Beberapa saat berlalu kitapun mulai meneruskan jalan. Yang kita lewati saat itu daerah yang rimbun sekali tapi bukan oleh daun tapi akar-akar yang entah bagaimana menutupi daerah itu. dan entah darimana datangnya, tiba-tiba saja ada seorang bapa-bapa dan anak kecil yang berbicara sama kita menyuruh kita untuk segera pulang, disaat kita bertanya tentang puncak Haruman, si bapa malah marah dan kembali menyuruh kita untuk pulang, ahirnya kita berlalu dan meneruskan perjalanan.tak berapa lama alhmdulillah kita bisa keluar dari daerah yang bikin nyesek dada, karena kita harus sampai membungkuk jalan daerah itu. Kita bertemu lagi dengan tanah lapang. Hijau rimbun tapi ternyata menyeramkan sekali. Kita saat itu mendengar suara auman yang jelas sekali didepan kita dan sepertinya ramai mungkin tidak satu tapi ada beberapa ekor atau beberapa makhluk. Atau apapun itu. Kita udah ga bisa lama-lama disitu, dengan sedikit berlari kita cepat-cepat berjalan menuruni jalan setrapak yang ada dipinggir kebon akar-akar tadi. Terus berlalri tanpa henti ahirnya kita sampai didaerah Gubuk yang ada batunya. Kita berdua saling tatap heran, kok bisa sampai sini. Dan keheranan kita tidak cukup sampai disitu. Batu yang tidak lama kita ambil fotonya menghilang! Kita bahkan mencari-cari letak batu itu..tapi fix!batu itu bener-bener ga ada. Tanpa pikir panjang kami segera mencari jalan keluar dari daerah itu. terus kita berjalan setengah berlari dan ahirnya tibalah kita di persimpangan jalan awalkita tersesat. Aku dan annaku berucap syukur kita bisa keluar dari daerah itu. “Jam berapa yank” (yank=sebutan sayang buat anak semata wayangku “setengah 11 bu..” jawab anakku. Kita menghela nafas panjang. “ kalo udah ga cape kita turun lewat jalan tadi ya” kataku Tapi keanehan muncul lagi. Tiba-tiba saja anakku keukeuh sekali ingin pulang lewat jalur yang berlainan. Dan aku mulai merinding kembali karena aku melihat mata anaku mulai merah dan menatap tajam tak bergerak. Saat itu aku berdoa dengan sepenuh hatiku. Memohon ampunan atas kesalahan kita berdua. Aku berusaha menyadarkan anakku dengan berdoa dan menepuk bahunya. Dan alhmdulillah anakku tersadar lalu kita mulai mencari tali rapia yang tadi diikatkan di beberapa titik oleh anakku. Sebagian tali hilang entah kemana. Karena kita menghitug jumlah tali itu. terus kita berjalan sambil tak lupa kita berdoa dan keadaan mulai berangsur membaik setelah terdengar suara oarng mengaji dari kejauhan. Karena itu hari Jumat. Dengat rasa yang tak karuan kami turun cepat sekali. Dan ahirnya kita sampai diperkampungan awal kita masuk. Damai hati ini ketika melihat jalan raya. Yang artinya kita sudah melewati daerah menyeramkan itu. Kita beristirahat sejenak sambil sesekali minum..duduk memandangi gunung yang megah berdiri didepan kami. Hijau...lebat....indah tapi bikin merinding. Kembali kita foto-foto disitu sambil mencairkan hati yang baru saja mengalami hal yang menyeramkan. Tak lama setelah itupun kita naik angkot, pulang. Didalam angkot kita terdiam, kupegang tangan anakku, dan berucap lirih..”alhamdulillah kita bisa pulang” Anakku mengangguk,”ya bu..alhmdulillah” Segitu aja Bang Jo..cerita kita berdua di Gunung Haruman. Pelajaran yang bisa kita ambil..kalo sudah ada yang melarang kita buat naek ke satu gunung atau suatu tempat. Lebih baik jangan. Walaupun larangan itu datangnya lewat mimpi. Dan supaya kita belajar lebih peka jika ada tanda-tanda saat kita tak tau jalan. Kita jangan terlalu cepat curiga tapi berhati- hati dan cepat berpikir itu akan banyak membantu menyelamatkan kita. Dan yang paling penting disaat kita dalam keadaan tak karuan, berdoalah, minta ampunan sama Allah. Karena mkhluk tak kasat mata bisa berwujud apa saja. Sekian. Wassalamu’alaikum Wr.Wb Salam lestari.


Blog, Updated at: November 07, 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Download Aplikasi Download Video

Download APK Amazing Videos DOWNLOAD APK

Diberdayakan oleh Blogger.

Kategori

Translate Article